Kanal Berita

monumen lumpur

Pemerintah Sediakan Rp 155 M untuk Korban Lapindo

TEMPO.CO , Jakarta: Pemerintah berencana menyediakan dana sebesar paling banyak Rp 155 miliar untuk membantu korban semburan lumpur Lapindo....

English

A protester in the Lapindo mud flow

Indonesians refuse to stop fighting extractive industry

[caption id="attachment_4121" align="aligncenter" width="590"] A protester in the Lapindo mud flow[/...

Opini

Pelanggaran HAM Berat Kasus Lumpur Lapindo

Oleh: Bosman Batubara PADA bulan Agustus tahun 2012, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), mengeluarkan putusan bahwa bencana L...

Pemerintah Sediakan Rp 155 M untuk Korban Lapindo

TEMPO.CO Jakarta: Pemerintah berencana menyediakan dana sebesar paling banyak Rp 155 miliar untuk membantu korban semburan lumpur Lapindo. Anggaran ini tertuang dalam pasal 9 Rancangan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan 2013.

Pasal 9 ayat (1) berbunyi, “Untuk kelancaran upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo, alokasi dana Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo Tahun Anggaran 2013 dapat digunakan untuk: a. Pelunasan pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area terdampak pada tiga desa (Desa Besuki, Desa Kedungcangkring dan Desa Pejarakan), sembilan rukun tetangga di tiga kelurahan (Siring, Jatirejo dan Mindi)”.

Sedangkan pasal 9 ayat (1) huruf b berbunyi sebagai berikut, “Bantuan kontrak rumah dan pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar area peta terdampak lainnya pada enam puluh enam rukun tetangga (Kelurahan Mindi, Kelurahan Gedang, Desa Pamotan, Desa Kalitengah, Desa Gempolsari, Desa Glagaharum, Desa Besuki, Desa Wunut, Desa Ketapang, dan Desa Porong). More

Indonesians refuse to stop fighting extractive industry

A protester in the Lapindo mud flow

A protester in the Lapindo mud flow

A protester in the Lapindo mud flow World Development Movement

Imagine coming from school to find your house submerged in grey mud and your community destroyed forever.

This is what happened to Yora, a young girl from the village of Siring in eastern Java, Indonesia and her father Marsudiyono. They were among the many victims of the Sidoarjo mud volcano, the biggest in the world, which erupted in May 2006. The eruption was caused by the fracking activities of Lapindo Brantas, a company set up by two big Indonesian companies and Australian oil firm Santos to extract natural gas from beneath the town of Sidoarjo. More

Penghancuran Terencana

Setelah tujuh tahun berlalu, nasib korban lumpur Lapindo semakin tidak jelas. Pembayaran uang jual beli bangunan dan tanah yang selama ini dianggap sebagai penyelesaian masalah, ternyata tidak serta merta membawa korban menuju nasib yang lebih baik. Selain proses jual beli tanah, yang tidak kalah penting adalah proses relokasi setelahnya. Namun sayangnya peraturan yang dibuat pemerintah dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) itu hanya mengatur mekanisme jual beli saja. Tidak ada peraturan yang secara spesifik mengatur proses kepindahan pemukiman korban lumpur Lapindo. Proses kepindahan pemukiman korban Lapindo bukanlah perkara mudah, setidaknya tergambarkan melalui fakta korban dari Desa Jatirejo berikut ini.

Setelah tujuh tahun sejak menyembur pertama kali pada Mei 2006 lalu hidup Munawir dan keluarganya berubah. Sebelumnya, dia adalah seorang pedagang di Pasar Porong (lama). Tetapi setelah lumpur menyembur, dia kehilangan pelanggan setianya, yang otomatis pula kehilangan pekerjaannya. Sejak itu Munawir bekerja sebagai kuli serabutan.

Muni’ah dan Ruang Tamunya Di sinilah Muni’ah biasa menerima tamu. Waktu foto diambil, Muni’ah sedang menunggu nasi yang ada di tungkunya masak. Di tempat itu pula Muni’ah biasa menunggui sisa bahan bangunan dan perabotnya. Muni’ah bercerita bahwa pernah ada kejadian kayu-kayu yang masih bagus dicuri oleh orang lewat dan diangkut menggunakan becak pada siang hari ketika keluarga ini tidak ada di gubuk mereka. Oleh karena itulah, gubuk itu harus tetap dijaga untuk menghindari pencurian bahan bangunan mereka. (Aperture priority, f/8, 1/60, ISO 400)

Muni’ah dan Ruang Tamunya
Di sinilah Muni’ah biasa menerima tamu. Waktu foto diambil, Muni’ah sedang menunggu nasi yang ada di tungkunya masak. Di tempat itu pula Muni’ah biasa menunggui sisa bahan bangunan dan perabotnya. Muni’ah bercerita bahwa pernah ada kejadian kayu-kayu yang masih bagus dicuri oleh orang lewat dan diangkut menggunakan becak pada siang hari ketika keluarga ini tidak ada di gubuk mereka. Oleh karena itulah, gubuk itu harus tetap dijaga untuk menghindari pencurian bahan bangunan mereka.
(Aperture priority, f/8, 1/60, ISO 400)

More

A Monument for Lapindo

TEMPO.COJakarta - Last May 29, a newly erected monument has stands on top of the mudflow embankment at point 21 with words engraved saying, “The Lapindo mud flow has buried our village and all Lapindo has done is throw around fake promises. The nation has neglected to recover our lives; our voices will never fade, so the nation will never forget.”

The monument was built to commemorate seven years since the Lapindo mud flow tragedy occurred at the Lapindo Brantas Inc site in Sidoarjo District, East Java. Since May 29 2006 until this moment, mud continues to burst and submerge 641 hectares of land in six villages in three sub-districts.

monumen lumpur

 

More

Long Wait For Victims of Indonesian Mud Volcano


Thousands left homeless by a volcanic mud eruption in Indonesia are still waiting for the final payment of their compensation.

It’s been seven years since the Lapindo mud flow disaster, when a sea of mud first began bubbling up, submerging homes and livelihoods.

Many blame oil drilling activities for the river of mud that erupted, but the company involved, Lapindo, says a volcanic eruption hundreds of kilometres away triggered the flow. More

‘Mud river’ could sink Bakrie candidacy

A SEVEN-YEAR-OLD natural disaster in the eastern part of Indonesia’s Java island that has remained an unresolved environmental and human tragedy is threatening to weigh on next year’s presidential elections.

The disaster, an incessant mudflow that began near a Lapindo Brantas oil- and gas-drilling site – owned by the powerful Bakrie family – days after an earthquake in 2006, has to date, swallowed 12 villages, submerged toll roads and rice fields, and displaced nearly 40,000 people.

More

A report from the Lapindo mud flow

It is astonishing in size. The mud stretches as far as the eye can see and it still has steam billowing out from the middle of it. We are in Surabaya in the East of Java, Indonesia, where we have travelled with JATAM (the Indonesian anti-mining network) to the site of the ‘Lapindo mud flow.’

The mud flow gets its name from ‘Lapindo Brantas,’ the company responsible for the disaster. In 2006, Lapindo caused a gas-well blowout, which triggered the mud flow. It has swallowed 22 villages and displaced thousands of people, many of whom have only received a small proportion of the compensation that they are due. Some of the companies involved with the disaster have received funding from the UK finance sector. More

Derita Mamik, Ibu Tua Korban Lumpur Lapindo

Liputan6.com, Sidoarjo : Akibat ganti rugi rumah dan sawah belum dilunasi oleh PT Minarak Lapindo Jaya, Mei Hariyatiningsih atau yang akrab dipanggil Ibu Mamik, kini hidup menderita. Apalagi, sang suami kehilangan pekerjaan bertani.

Liputan 6 SCTV, Rabu (29/5/2013) memberitakan, ibu tua itu kini terpaksa tinggal di sebuah gubuk yang berada di atas tanggul lumpur Lapindo. Nasibnya kini jauh lebih sengsara dibanding saat masih memiliki rumah dan sawah. Sebelum lumpur Lapindo meluap. More

Korban Lapindo Bertemu Komisi D DPRD Sidoarjo

persoalan pendidikan

Sidoarjo, korbanlumpur.info – Sekitar 30 warga korban Lapindo yang tergabung dalam kelompok belajar Ar-Rohma hari Senin (3/6) mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo. Tujuan kedatangan warga kali ini adalah ingin menyampaikan persoalan pendidikan dan kesehatan yang selama tujuh tahun belakangtidak mendapatkan perhatian dari Lapindo maupun pemerintah.

Kelompok warga yang mayoritas perempuan itu langsung ditemui Mahmud, ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo. Warga langsung menyampaikan aspirasinya terkait persoalan pendidikan dan kesehatan yang tengah mereka hadapi. Mulyani, seorang anggota Ar-Rohma dari Desa Jatirejo, menyampaikan perihal anaknya yang saat ini terancam tidak bisa mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) karena masih menunggak biaya UAS dan tiga bulan SPP.

More