Portal Korban Lapindo

... menyajikan fakta lapangan dan memperjuangkan hak-hak korban

Friday
Mar 12th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Permaluan Umum bagi Simpatisan Lapindo

E-mail Print PDF

Tadi pagi saya menerima salah satu posting dari salah satu milis yang saya langgani. Isinya sebuah artikel yang dimuat harian Media Indonesia yang isinya membuat saya, lagi-lagi, harus mengurut dada karena prihatin sekaligus geram. Artikel tersebut diberi judul "Kembalinya Sebuah Kehidupan di Sidoarjo". Penulisnya bernama Nico Wattimena, seorang Dosen Pasca Sarjana Stikom, London School of Public Relations. Sayapun mBatin, persediaan lonte intelektual dalam masalah Lapindo ini memang tidak ada habisnya.

 

Yang ditulis oleh sang pakar, menurut saya, tidak lebih adalah bentuk advertorial Lapindo dalam versi yang lain. Kalau sebelumnya, Grup Bakrie masih cukup jantan untuk memberi label iklan mereka yang dipampang di media, kini tidak lagi. "Iklan" itu muncul dalam bentuk artikel, di sebuah kolom opini di media nasional, dan ditulis oleh seorang dosen pascasarjana.
Isinya benar-benar senafas dengan berbagai macam advertorial Lapindo yang sudah muncul terlebih dahulu. Logika berpikir yang selalu coba dibangun adalah Lapindo yang tidak bersalah dalam kasus semburan Lumpur Sidoarjo, namun tetap punya kepedulian tinggi, sehingga terus mengupayakan yang terbaik bagi korban Lumpur. Maka solusi terakhir yang ditawarkan oleh Lapindo benar-benar jalan keluar terbaik bagi korban Lumpur.

Sedangkan pola-pola penulisan yang muncul juga tetap konsisten, yaitu antara lain :
- Penyebutan Lumpur Sidoarjo, alih-alih Lumpur Lapindo
- Semburan Lumpur akibat gempa
- Pengadilan sudah membuktikan lapindo tidak bersalah
- Meski begitu Lapindo tetap bertanggungjawab dengan memberi ganti rugi
- Solusi apapun yang ditawarkan adalah semata-mata demi kepentingan korban
- Dan sebagainya (silahkan ahli media melakukan analisa terhadap "iklan-iklan" Lapindo, baik yang terbuka maupun terselubung seperti artikel ini. Saya punya dokumentasinya kalau ada yang bisa membantu)

Saya tidak kenal dan sama sekali tidak tahu apa latar belakang Nico Wattimena ini. Tetapi apa yang dilakukannya benar-benar menginjak-injak rasa keadilan dan mengeksploitasi penderitaan Korban Lapindo. Apakah seorang Dosen Pasca Sarjana, dari sebuah kampus ternama, tidak bisa cari makan yang lain selain makan dari bangkai kehidupan rakyat Sidoarjo yang sudah hancur luluh oleh lumpur. Apa tidak ada lagi cara lain yang lebih bermartabat untuk mengais rejeki. Entah apalagi yang bisa dikata kepada orang semacam ini.

Atau lebih tepatnya, orang-orang semacam ini. Sebab, banyak sekali orang/tokoh yang tampaknya menangguk kotornya uang lumpur. Sekumpulan ahli geologi yang dengan mengalahkan logika keilmuan dan komunitas mereka sendiri menjadi "staf ahli" Lapindo. Sekumpulan ilmuwan di Unair yang menjadi penggawang media corong Lapindo. Media yang memuat advertorial terselubung (acara "dialog khusus" di TV yang iklan juga), dan yang sudah ter"sensor" oleh modal sedemikian rupa. Kyai yang menyumpah korban demi memberi harapan palsu, dan sekarang meninggalkan ribuan korban yang dulu sangat tergantung kepada dia. Para panelis dalam debat terbuka cagub Jatim, yang mestinya sangat paham bahwa lumpur Lapindo adalah masalah terbesar Jatim dalam 5 tahun ke depan, namun entah kenapa seolah-olah lupa menanyakan kepada para cagub tentang hal itu. Dan kiranya masih banyak lagi.

Saya sampai pada kesimpulan ini, karena tidak ada lagi logika manusiawi yang bisa menjelaskan motivasi apa yang mereka lakukan. Selain bahwa karena memang mereka termasuk orang yang tidak akan malu mengaca di pagi hari demi melihat tampangnya adalah muka yang menginjak2 Korban Lapindo. Atau tidak akan merasa jengah demi memberi makan anak istrinya uang yang didapat dari menjual penderitaan dan kesengsaraan korban lumpur Lapindo. Oh rindunya saya dengan Romo Frans Magnis Suseno, demi mengingat hal itu. Atau juga dengan para pendiri republik ini, yang pasti akan memperjuangkan nasib rakyatnya, sepenuh hati.

Dalam situasi dimana hukum dan negara tidak mampu mengadili hal-hal seperti ini, maka revolusi seringkali menjadi dambaan. Namun sebelum itu dilakukan, saya ingat salah satu isi dari pembaca menulis di salah satu media yang saya baca. Kita permalukan saja mereka di depan publik. Pemaluan publik (public humiliating) ini banyak bentuknya, tapi saya coba memulai dengan salah satu yang paling mudah dan murah saja, yaitu menulis apa yang mereka lakukan, dan menyebarkan kepada publik. Ada yang ikut menambahkan?

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
nagabonar  - Di beli   |2008-07-17 03:29:36
Satu lagi pembungkaman media. Koran Surabaya Post sudah dibeli oleh bakrie.
Isinya dibungkam isu lapindo.
sukamto  - Melawan Kuasa Media   |2008-07-21 08:02:32
Tepat apa yang anda (admin) korban lakukan untuk tetap menyuarakan fakta dan
kebenaran.

Percayalah bahwa media yang telah dibeli Lapindo, pada saatnya
dapat bernasib seperti media di awal 1965, yang isinya penuh dengan
kebohongan.

Saya ingat dalam sebuah jurnal "Asia" seorang penulis
hanya menjejerkan media yang terbit di Era 1965, tanpa dianalisis dan
disimpulkan, tetapi pada akhrnya diaykini bahwa semerbaknya media tersebut
hanyalah kebohongan belaka. Selamat berjuang.

P. Kamto
pius desmond   |2008-08-23 16:13:07
intelektual itu melihat penindasan dengan rasa marah. Mereka yang membiarkan
saudaranya teraniaya, apalagi ikut terlibat dalam usaha menutupi kebenaran tidak
lebih dari SAMPAH MASYARAKAT.
NICO WATTIMENA YOU ARE SUCKS !!!
orang awam   |2008-08-26 04:31:45
sy kira perlu keberanian diantara kita wni yg cinta keadilan kemanusiaan untuk
mengakui dengan sebenarnya : janganlah kita menyebut diri lagi sbg negara hukum;
yang mana mengikat pemerintah serta warganya wajib taat hukum.
jg perlu
ketegasan dari kita semua untuk menghentikan kebebasan pers yang seenak udelnya
mengobrak-abrik rasa kemanusiaan kita tnp kita bisa melawannya secara
one-to-one.
brengsek semua sistem yg terlanjur kita sepakati....
fanatiCanz  - awam juga     |2008-08-28 06:10:27
Saya cuma orang awam tentang asal muasal kasus lapindo dan segala
penyelesaiannya.

Tapi.. Apa bukti mereka telah memberi ganti rugi jika sampai
saat ini korban masih menderita? dari yang muda hingga yang tua.

Ditambah
pelacuran intelektual..

SUCK !!!
Ryan Suryo  - Manja   |2008-09-18 13:43:31
Manja sekali sih korban2 lumpur sidoarjo ini. Memangnya satu indonesia isinya
kalian semua??? Memang kalian yang paling penting??

Rengekan2 kalian sudah
cukup membuat kami muak !!
imron  - sabar   |2008-09-18 14:53:54
Bung Ryan,
Mohon maaf kalau yang dialami oleh saudara korban lapindo membuat
anda muak. Mungkin anda telah membuat perbedaan derajat. Anda sebagai penikmat
kekayaan lapindo, dan di porong adalah korbannya. Sehingga tuntutan yang korban
membuat anda gelisah dan muak.

tabik
pius desmond   |2008-09-27 05:28:40
wah... orangnya Lapindo kebakaran jenggot nich ...
YOU SUCK TOO RYAN
(btw nama
loe kok mirip ama yang barusan ditangkep polisi ya?, ok deh salam sama noval
yach)

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Tuesday, 09 September 2008 17:02 )  
Banner

Kanal Radio

Sekolah Darurat Tergusur Lumpur

Foto

Rekaman Video - Aku Mau Pulang

Aku Mau Pulang - Tragedi Lumpur Lapindo

Statistik

Members : 70
Content : 537
Web Links : 22
Content View Hits : 390713

Pengunjung

We have 7 guests online