Portal Korban Lapindo

... menyajikan fakta lapangan dan memperjuangkan hak-hak korban

Wednesday
Mar 10th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ayu Anita, Potret Anak Korban Lumpur Lapindo

E-mail Print PDF

Usianya belum lagi genap lima belas tahun namun dia musti memikul beban yang amat berat. Bekerja dari pukul lima sore hingga pukul 2 dini hari harus dilakoninya tiap hari. Tak ada libur dan tak ada waktu main-main, belanja di mall, nonton bioskop, mencoba cinta monyet, atau bersekolah layaknya gadis-gadis remaja seusianya.

 

Ayu Anita nama gadis itu, orangnya mungil dan cantik, kulitnya putih, tutur katanya pelan. Dia seorang yang pendiam, mungkin ingin menyembunyikan kepedihannya yang kelam.

Saat saya mengunjunginya malam tadi dia sedang menengok orangtuanya yang sudah sakit-sakitan di pengungsian Pasar Baru Porong. Ibunya menemani kami ngobrol, adik-adiknya bermain di sekitar bilik pengungsian yang sempit dan panas.

Dua minggu sekali dia menengok mereka, sekedar membagi sedikit kelebihan rezeki yang dia kumpulkan bersusah-payah.

"Sehari saya dapat sepuluh ribu, sejak dua tahun lalu tak pernah naik," tutur Ayu.

Ayu bekerja di sebuah warung kopi sederhana di Pasar Wisata Tanggul Angin sejak dua tahun lalu. Keputusan untuk bekerja diambilnya setelah lumpur Lapindo menenggelamkan rumahnya di Renokenongo. Tak hanya menenggelamkan rumah tapi juga merenggut lahan pertanian yang selama ini disewa bapaknya Kayat untuk penyambung hidup. Setelah bencana itu, Mutmainah, ibunya, juga tak lagi bisa bekerja sebagai pedagang kupang, sejenis kerang kecil. Saat itu Ayu masih duduk di bangku kelas I MA Khalid bin Walid.

Setelah lumpur menenggelamkan desa Renokenongo. Pasangan Kayat dan Mutmainah beserta 6 anak-anaknya mengungsi di Pasar Baru Porong bareng ribuan warga korban lumpur lainnya.

Sejak tinggal di pengungsian Ayu tak lagi bisa berangkat sekolah, alasannya, banyak; dia tak punya sepeda untuk ke sekolah yang jaraknya 3 km, orangtuanya tak punya uang untuk membayar sekolah, adik-adiknya perlu makan dan bapak-ibunya tidak lagi bekerja.

Maka seorang kawannya menawari Ayu untuk bekerja di sebuah warung kopi, Ayu tidak dapat menolaknya. Hingga sekarang Ayu masih bercita-cita ingin menyelesaikan sekolahnya tapi keadaan memaksanya untuk tetap bekerja. [mam]

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
rahman  - kok     |2009-01-25 17:00:39
tulisanmu kok dadi menye2 ngene mam?
jatuh cinta ya..

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Banner

Kanal Radio

Sekolah Darurat Tergusur Lumpur

Foto

Rekaman Video - Aku Mau Pulang

Aku Mau Pulang - Tragedi Lumpur Lapindo

Statistik

Members : 70
Content : 533
Web Links : 22
Content View Hits : 390138

Pengunjung

We have 46 guests online