Lokasi Anda
Beranda > Bingkai

Peringatan Sembilan Tahun Semburan Lumpur Lapindo (29 Mei 2015)

Tanggal 29 Mei 2015, semburan lumpur Lapindo genap berusia sembilan tahun. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, warga secara mandiri mengorganisasi peringatan semburan lumpur yang telah memporak-porandakan kehidupan sosial dan lingkungan mereka. Semua itu diselenggarakan demi suatu usaha mengingat tragedi industri migas paling fenomenal di republik ini.

Di Atas Monumen Petaka Industri Migas

Salah satu fenomena sosial baru yang menyusul semburan lumpur Lapindo adalah maraknya kunjungan publik ke Porong. Para pengunjung itu tidak hanya berdatangan dari wilayah di sekitar Sidoarjo, beberapa datang jauh-jauh dari luar Jawa dan bahkan luar negeri. Mereka datang untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri, beberapa juga mengabadikan sebuah momen langka: kehadiran mereka di atas monumen petaka industri migas di republik ini.

Tanah Yang Hilang

Ingatan akan tanah yang makin tenggelam oleh lumpur membawa saya kembali menelusuri jejak kampung halaman warga di kecamatan Tanggulangin, Porong dan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Tragedi Lumpur Sidoarjo ini kemudian menuntun saya untuk sedikit demi sedikit mengumpulkan rekam jejak kampung halaman yang makin hilang. Rumah, sawah, sekolah, masjid, makam, kantor pemerintahan, pabrik, dan jalan desa berangsur hilang ditelan lumpur.

Penghancuran Terencana

Foto-foto ini hanyalah sekelumit cerita mengenai dampak lumpur Lapindo, sebuah bencana teknologi yang menyisakan kehancuran. Desa dan kampung kini menjadi wilayah mati. Desa tak berpenghuni. Sisa puing bangunan rumah yang telah dihancurkan. Kehancuran itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Kehancuran itu terjadi karena telah direncanakan. Inilah beberapa potret penghancuran terencana itu.

Pelanggar HAM Berat

Salah seorang perwakilan Jaringan Rakyat Miskin Kota Indonesia membacakan pernyataan sikap saat peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia di kantor LBH Jakarta, Selasa malam (10/12/2013). Dalam pernyataan sikapnya, para

Sebelum Menjadi Kedung

Barangkali sebentar lagi, mereka hanya akan menyimpan rumah-rumah itu dalam laci ingatan. Belasan warga Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, masih memilih bertahan di tempat tinggal mereka, persis di sisi utara

Tanggul Semakin Tinggi

Ketinggian lumpur Lapindo makin meningkat seiring tingginya curah hujan. Kondisi pabrik rotan di wilayah Desa Ketapang, misalnya, kian hari kian terendam. Diperkirakan, beberapa hari ke depan, atap pabrik ini sudah tidak kelihatan. Warga yang tinggal di sekeliling tanggul resah. Tanggul penahan lumpur setiap saat bisa jebol.

Mengungsi ke Ladang Tebu

Dari pengungsian ke pengungsian. Inilah nasib warga korban lumpur dari Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, selama tiga tahun ini. Setrelah hampir tiga tahun tinggal di pengungsian Pasar Baru Porong, sejumlah 500 keluarga lebih dipaksa meninggalkan lokasi. Mereka lalu berbondong-bondong ke tanah ladang tebu Dusun Kedungkambil, Desa Kedungsolo, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Top
Translate »