Portal Korban Lapindo

... menyajikan fakta lapangan dan memperjuangkan hak-hak korban

Friday
Jul 30th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Sulit Melupakan Desa Asal

E-mail Print PDF

SIDOARJO - Puluhan korban lumpur Lapindo masih sering mengunjungi desa asal mereka. Hal ini mereka lakukan bukan semata hanya untuk mengais rejeki, tapi lebih untuk bisa bertatap muka dengan tetangga dan sanak saudara mereka di kampung dulu.

Mereka berangkat dari tempat tinggal mereka di pagi hari dan pulang menjelang malam. Menurut Amir (27 tahun), salah satu warga, ia dan korban Lapindo yang lain menyediakan jasa ojek kepada para pengunjung yang naik ke atas tanggul dan berjualan kaset dokumentasi lumpur Lapindo. Tidak hanya itu, warga yang kebanyakan masih mengontrak ini juga memarkir atau menyeberangkan kendaraan.

"Saya mengojek dan berjualan kaset di tanggul lumpur sudah dua tahun terakhir dan hasilnya tidak seberapa. Saya hanya selalu ingin melihat desa kelahiran saya, dan bercanda dengan teman serta tetangga yang senasib dengan saya," kata warga asal Desa Jatirejo itu.

Kebanyakan warga yang mengojek dan berjualan kaset tinggal di sekitar Kecamatan Porong, bahkan ada beberapa warga yang tinggal di wilayah Kabupaten Pasuruan. Walaupun demikian, mereka masih tetap menjalani aktivitas tersebut walau kadang pulang tak membawa hasil.

Menurut Amir, tujuan warga tidak semata-mata untuk mencari uang, tapi bersosialisasi dengan teman sekampung. Udara sekitar yang tak sehat tidak pernah dihiraukan warga.

"Saya tahu kalau udara di sini berbahaya. Tapi saya tidak tahu kenapa saya dan teman-teman saya betah berlama-lama di sini bahkan saat panas sekalipun," tambah Amir sambil tersenyum.

Pernyataan Amir diperkuat oleh Widodo (23 tahun), warga asal Desa Siring yang menjadi tukang parkir di sekitar tanggul. Tujuan utama warga adalah menjaga tali silaturahmi dengan teman lama dan mengais rejeki adalah yang kedua.

"Rasanya berbeda bercanda dengan teman di desa tempat tinggal saya sekarang. Ada rasa tersendiri saat bertemu teman dari kecil walau tempatnya di tanggul yang panas dan berdebu," kata Widodo. (fahmi)

(c) Kanal News Room 


Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Sunday, 14 February 2010 05:06 )  

Foto

Rekaman Video - Aku Mau Pulang

Info Donasi

Ingin mendukung "Aksi Seribu Rupiah"? Lihat di sini..


Selasa, 20 Juli 2010, sejumlah 24 anak korban Lapindo telah menerima donasi publik untuk biaya pendidikan selama satu tahun. Lihat daftar penerima di sini.


Jum'at, 16 Juli 2010, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp 52.110.675.


Rabu, 14 Juli 2010, 12.30, donasi yang terkumpul sebesar Rp. 50.560.675.


Selasa, 13 Juli 2010, 06:15:34, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp. 35.110.675.

Kanal Radio

Sekolah Darurat Tergusur Lumpur

Komentar

Statistik

Members : 67
Content : 612
Web Links : 22
Content View Hits : 456419

Pengunjung

We have 14 guests online