SIDOARJO – Kemacetan seakan menjadi makanan sehari-hari warga porong dan pengguna jalan yang setiap hari melewati jalan raya Porong. Itu disebabkan jalan tol Surabaya-Gempol yang menghubungkan kota Surabaya ke kota-kota lain di Jawa Timur terendam lumpur Lapindo lebih dari tiga tahun lalu. Akhirnya seluruh aktivitas kendaraan dari dan menuju Surabaya dibebankan ke jalan raya Porong.
Penurunan pendapatan tidak bisa dihindari para pengguna jalan. Menurut Kacong (30), salah satu sopir angkot jurusan Surabaya-Malang. Jika akan memasuki wilayah Porong, ia dan sopir angkot lain harus memilih lewat jalan alternatif yang sepi penumpang dengan tambahan biaya solar, atau tetap lewat jalan raya Porong dengan tambahan tiga jam hanya untuk melewati jalan raya Porong sepanjang 3km.
“Sebelum jalan raya Porong macet saya bisa mendapat penghasilan bersih Rp100rb per-hari. Tapi kalau sekarang dapat Rp25-30rb per-hari sudah bagus”, sahut Kacong sambil menunggu penumpang.
Pernyataan Kacong diperkuat oleh Kopral (25), kenek angkot. Selain masalah diatas, bus yang dulu lewat jalan tol dan sekarang melewati jalan raya Porong juga menjadi saingan. Selain itu para penumpang disepanjang jalan raya Porong sudah pindah atau mengungsi ke kota lain karena rumah mereka telah terendam lumpur.
Pengganti jalan tol surabaya-Gempol masih terkendala pembebasan lahan. Bisa dipastikan penyelesaian pembangunan akan molor dari target. Kacong dan mungkin seluruh pengguna jalan lain berharap pemerintah segera menyelesaikan jalan tol baru tersebut, agar kendaraan dari dan menuju Surabaya tidak tertumpu hanya di jalan raya Porong. (fahmi)
(c) Kanal News Room
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|








Kasihan para petani bandeng itu, semo...
Salam, Saya sedih dengan tulisan ini...
ini terjadi karena ulah lapendos... ...
saya melihat, ada pihak yang diuntung...
Melihat kondisi seperti ini kita bena...