SIDOARJO - Meski tergenang lumpur pada 22 Januari lalu, beberapa warga Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, masih bertahan di desa mereka. Warga tidak mau meninggalkan rumah mereka. Alasannya, pihak Lapindo belum melunasi sisa pembayaran 80 persen tanah dan bangunan mereka. Warga juga menduga, lumpur sengaja dialirkan ke arah rumah mereka supaya BPLS bisa dengan leluasa menjadikan Kedungbendo sebagai kolam penampungan lumpur baru.
Menurut Astika (42 tahun), ada 13 keluarga yang masih bertahan dan semuanya masih belum punya rumah baru. Uang cicilan Rp 15 juta per bulan oleh pihak Lapindo, sebagai pelunasan 80 persen, hanya bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Warga terpaksa mengikuti skema cicilan karena pihak Lapindo menolak membayar sisa 80 persen secara cash and carry.
"Uang Rp 15 juta itu tidak saya terima utuh. Karena saya harus membaginya dengan dua keluarga lain. Bagaimana tidak, dalam berkas tanah yang saya ajukan ke Minarak Lapindo dulu terdapat tiga bangunan di atasnya," tambah Astika.
Hal serupa juga dialami oleh Supiati (35 tahun). Ia bahkan mengaku bahwa cicilan Rp 15 juta per-bulan harus ia bagi dengan empat keluarga lain. Bisa dibayangkan berapa yang didapat masing-masing keluarga.
"Ya pasti habis, karena saat saya dan keluarga yang lain menerima cicilan itu pas dalam kondisi tidak bekerja lagi. Bulan ini saja belum dibayar. Sebenarnya keinginan warga hanya kembalikan hidup kami seperti dulu," ujar Supiati dengan keras. (fahmi)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|








Kasihan para petani bandeng itu, semo...
Salam, Saya sedih dengan tulisan ini...
ini terjadi karena ulah lapendos... ...
saya melihat, ada pihak yang diuntung...
Melihat kondisi seperti ini kita bena...