Portal Korban Lapindo

Wednesday
Sep 08th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Tanggul Kritis, Warga Khawatir

E-mail Print PDF
SIDOARJO - Hujan yang terus menerus mengguyur kawasan lumpur Lapindo membuat kondisi tanggul kritis. Yang paling rawan adalah sisi tanggul Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin. Warga di sekeliling tanggul khawatir, lumpur yang terus keluar dari pusat semburan sekaligus tingginya volume hujan belakangan ini akan membuat tanggul jebol.
"Sejak 15 Januari, warga Desa Ketapang Barat merasa was-was.Warga menjadi sangat khawatir karena pihak BPLS tidak memberikan kejelasan yang kongkrit soal keamanan tanggul,” tutur Suprapto, 45 tahun, warga Desa Ketapang. Menurut Suprapto, tidak adanya kejelasan membuat warga stres, trauma, tidak bisa tidur. “Bahkan anak-anak takut pergi sekolah,” ujarnya.
Selain khawatir dengan kondisi tanggul yang sewaktu-waktu bisa jebol, warga juga cemas akan terjadinya banjir. Tahun lalu Desa Ketapang Barat tergenang banjir sampai selutut orang dewasa ketika musim hujan datang. Munculnya gas-gas liar yang tak juga berhenti juga menambah kegelisahan warga Ketapang Barat.
Warga Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, juga mengalami kecemasan serupa. Mereka khawatir, tanggul sisi utara, yang berbatasan dengan Desa Kedungbendo, akan jebol jika hujan terus-menerus turun. “Kami dan warga di sini khawatir jika musim hujan datang. Tanggul yang ada di belakang rumah sewaktu-waktu bisa jebol,” ujar Suparno, 48 tahun, warga Desa Gempolsari yang berjarak 300 meter dari tanggul.
Warga Gempolsari juga mencemaskan terjadinya banjir. “ Jika hujan dua jam saja bisa banjir di sekitar rumah saya,” tambah Suparno.
Sementara itu, warga di sisi timur tanggul juga tak luput dari kecemasan. “Warga di sini juga khawatir jika hujan datang bisa berakibat jebolnya tanggul penahan lumpur. Apalagi pihak BPLS tidak pernah memberikan informasi soal berapa bahaya tanggul penahan lumpur tersebut,” kata Rohim, 45 tahun, salah satu warga Besuki Timur.
Warga Desa Glagaharum, yang tinggal di sisi timur tanggul (bekas) Desa Renokenongo, juga cemas. Desa ini berhadapan langsung dengan tanggul. Sementara, hingga Jumat, 15 Januari, posisi lumpur dengan bibir tanggul hanya sekitar satu meter.
Warga berharap, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) memberi keterangan sejelas-jelasnya soal keamanan tanggul. Warga juga menginginkan, BPLS memberikan keterangan mengenai upaya menyelamatkan warga sekitar tanggul. Sehingga warga tahu, kapan dan di mana kalaupun harus direlokasi. (vik)
(c) Kanal News Room
Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 04 February 2010 18:06 )  

Info Donasi

Ingin mendukung "Aksi Seribu Rupiah"? Lihat di sini..


Senin, 2 Agustus 2010, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp 60.248.475.


Selasa, 20 Juli 2010, sejumlah 24 anak korban Lapindo telah menerima donasi publik untuk biaya pendidikan selama satu tahun. Lihat daftar penerima di sini.


Jum'at, 16 Juli 2010, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp 52.110.675.


Rabu, 14 Juli 2010, 12.30, donasi yang terkumpul sebesar Rp. 50.560.675.


Selasa, 13 Juli 2010, 06:15:34, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp. 35.110.675.

Statistik

Members : 67
Content : 647
Web Links : 22
Content View Hits : 474193

Pengunjung

We have 28 guests online