Lokasi Anda

Derita Mamik, Ibu Tua Korban Lumpur Lapindo

Liputan6.com, Sidoarjo : Akibat ganti rugi rumah dan sawah belum dilunasi oleh PT Minarak Lapindo Jaya, Mei Hariyatiningsih atau yang akrab dipanggil Ibu Mamik, kini hidup menderita. Apalagi, sang suami kehilangan pekerjaan bertani.

Liputan 6 SCTV, Rabu (29/5/2013) memberitakan, ibu tua itu kini terpaksa tinggal di sebuah gubuk yang berada di atas tanggul lumpur Lapindo. Nasibnya kini jauh lebih sengsara dibanding saat masih memiliki rumah dan sawah. Sebelum lumpur Lapindo meluap.

Mamik merupakan salah seorang korban lumpur Lapindo asal Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Dia sudah 3 bulan ini tinggal di gubuk yang dibangun suaminya di atas tanggul Desa Jatirejo. Bersama suaminya, Mamik menempati gubuk berukuran 2X3 meter, sementara ketiga anaknya dan 2 cucunya mengontrak sebuah rumah di Tanggulangin.

Mamik terpaksa tinggal di gubuk karena rumah kontrak yang ditempati sudah habis. Dan selama 7 tahun ini, rumah dan sawah milik suaminya belum dilunasi oleh PT Minarak Lapindo Jaya. Hanya satu harapan Mamik, ganti rugi atas rumah dan sawah mereka segera dilunasi. Dengan uang itu, ia dan keluarga bisa memulai hidup baru yang lebih baik.

Sudah 7 tahun lumpur lapindo menyembur. Namun, janji PT Minarak Lapindo Jaya untuk segera melunasi ganti rugi korban pada bulan Mei ini nampaknya hanya akan menjadi janji belaka. Untuk itu, korban lumpur Lapindo sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji manis Minarak Lapindo Jaya.

Selama 7 tahun itu pula nasib korban lumpur Lapindo yang berada didalam peta area terdampak tak kunjung tuntas ganti ruginya. Total ganti rugi korban lumpur yang harus ditanggung PT Minarak Lapindo Jaya sekitar Rp 786 miliar.

Pada Selasa 28 Mei, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah yang didampingi Forum Pimpinan Daerah mengunjungi gubuk milik korban lumpur lapindo di atas tanggul lumpur. Kedatangan rombongan Bupati ini justru disambut dengan lontaran kekecewaan korban lumpur Lapindo yang merasa telah dibohongi oleh bupati dan Lapindo.

Tidak ada solusi yang menggembirakan bagi korban Lapindo karena Bupati Sidoarjo hanya bisa sekedar memberi fasilitas untuk bertemu dengan pihak-pihak terkait. “Saya akan fasilitasi. Tidak segera dibayar karena sudah tidak punya duit,” kata Saiful Ilah.

Kini, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo atau BPLS mengklaim terjadi penurunan intensitas semburan semenjak tahun 2006 silam. Jika pada tahun 2006 volume semburan lumpur mencapai 150 ribu kubik perhari, kini tinggal 20 hingga 30 ribu kubik perhari. (Eks)

(c) Liputan6.com

Top
Translate »