Solidaritas Anak-anak Korban Lapindo untuk Anak-anak Syi’ah di Sampang

Sampang – Anak-anak korban Lapindo dari desa Besuki kecamatan Jabon yang tergabung dalam sanggar Al-Faz, mengunjungi korban kerusuhan konflik agama di GOR Tenis Indoor Kota Sampang. Kunjungan ini bertujuan untuk berbagi solidaritas dengan mengajak anak-anak korban konflik Sampang untuk bermain bersama. Sekurangnya 14 anak-anak, pemuda, dan pengasuh Sanggar Al Faz berangkat menuju Sampang pada Sabtu (20/10) siang.

Anak-anak korban Lapindo dan konflik Sampang ini bersama-sama bernyanyi dengan diiringi tabuhan Djembe di halaman GOR. Selain itu, aktivitas selama dua hari diisi dengan bermain bersama, menari, dan membuat balon kertas. “Kami tertarik datang kesini karena kami juga pernah merasakan menjadi pengungsi di kasus lumpur Lapindo. Kami kesini mencoba mengajak anak-anak korban kekerasan atas nama agama untuk bermain bersama, menghibur mereka dan mengajak menghibur dirinya sendiri. Ini sekaligus mengajarkan anak-anak Sanggar Al-Faz untuk saling berbagi meskipun dalam bentuk main bersama,” ungkap Muhammad Irsyad, pengasuh Sanggar Alfaz.

Irsyad menambahkan, anak-anak yang menjadi korban harus terus ceria dan tidak boleh ikut menjadi korban kekerasan. Negara seharusnya melindungi hak-hak anak-anak penganut Syi’ah dan tidak membiarkan kondisi yang bisa menciptakan trauma bagi anak-anak.

Wijan(43) salah satu warga Syi’ah yang juga ikut mengungsi, menyampaikan terima kasih atas kunjungan dari anak-anak Sanggar Alfaz, setidaknya dengan kunjungan ini, anak-anak  di pengungsian tidak larut dalam kesedihan dan trauma atas konflik yang terjadi pada Agustus 2012 silam. “Kami disini sangat berterima kasih atas kunjungan kali ini, mudah-mudahan kunjungan ini, anak-anak bisa senang dan merasakan punya teman yang masih peduli dengan kondisi mereka,” ungkapnya.

Menurut Wijan, selama di pengungsian anak-anak yang masih SD harus sekolah di tenda yang disediakan di depan GOR Sampang. Sedangkan yang sudah SMP dan SMU terpaksa dipindahkan di daerah Bangil dan Jember. Ia sangat menyayangkan lambannya peran pemerintah dalam menangani kasus ini. Ia juga masih belum tahu sampai kapan tinggal di barak pengungsian. Warga berharap untuk segera pulang melanjutkan aktifitas lagi. “Kami berharap segera dipulangkan, agar kami bisa bekerja lagi, anak-anak bisa sekolah dengan layak,” tutur Wijan.

Kunjungan anak-anak Sanggar AlFaz selama dua hari ini diakhiri dengan mengajak anak-anak korban kekerasan Sampang untuk membuat tiga balon kertas besar. Kemudian bersama-sama menerbangkannya dengan bantuan panas kayu yang dibakar. Tepuk tangan mengiringi balon yang bergerak meninggi. Sebelum meninggalkan lokasi dan kembali ke Porong, anak-anak AlFaz menyerahkan beberapa alat musik untuk digunakan anak-anak komunitas Syi’ah di pengungsian, menjadi simbol hubungan diantara mereka.(vik)

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »