Bertanam Sayuran Hingga Jalan Kaki ke Ibukota

Sidoarjo – Setelah lebih dari enam tahun semburan lumpur menghancurkan wilayah tinggal warga  puluhan desa di Porong, Jabon, dan Tanggulangin, masih belum nampak pemulihan kehidupan warga korban Lapindo. Korban Lapindo dalam Peta Area Terdampak (PAT) 22 Maret 2007 yang seharusnya diganti asetnya oleh PT Lapindo Brantas Inc. Masih menyisakan ribuan masalah. Dari kasus tidak dibayar sama sekali, dicicil, hingga diganti dalam bentuk rumah yang sampai kini tak diberi sertifikat.

Ini masih juga belum menghitung warga yang mesti membiayai sendiri kesehatan, pendidikan, dan  juga peningkatan biaya kebutuhan dasar lain. Warga mesti bersusah payah sendiri memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang makin meningkat. Sumber produksi yang lenyap-pun mesti menjadi beban warga tanpa campur tangan pengurus negara maupun perusahaan. Sebagaimana disampaikan Irsyad, warga desa Besuki yang kehilangan sawahnya setelah diluberi lumpur pada 2007, Ia harus mencari sumber penghasilan lain dengan bekerja sebagai kuli bangunan hingga mencari kepiting di tambak.

Ia kini beternak jangkrik dan belajar bertani lahan sempit. Cara bertani lahan sempit dipilihnya setelah Ia mendapati lahan di wilayah Besuki tak bisa ditanami lagi. “Kami masih belajar beberapa bulan ini, semoga kedepan bisa memahami ketrampilan ini dan menjadi sumber ekonomi bagi kami,” ujar Irsyad.

Saat ditemui di Besuki, Ia sedang mengolah tanah di dalam green house kecil di halaman depan rumah. Puluhan polly bag dijajar pada halaman bagian kanan. Beberapa pemuda terlihat datang pergi membawa kantong pollybag berisi tanaman. “Itu tomat dan terong yang kami bagikan kepada warga yang mau bertanam,” kata Irsyad. Ia membantu menyiapkan bibit tanaman sayuran untuk Ibu-ibu anggota kelompok Jimpitan Sehat yang ingin bertanam.

Warga desa Besuki merasakan bagaimana pondasi ekonomi mereka porak poranda akibat semburan lumpur Lapindo. Setelah hampir enam tahun, mereka baru mendapatkan kejelasan pemulihan setelah ada kebijakan Peraturan Presiden 37 pada bulan April 2012 lalu.

Sementara itu, dua warga korban lapindo yang berasal dari desa Kedungbendo dan Jatirejo siang ini mulai aksi jalan kaki menuju Jakarta. Hari Suwandi (44) dan Harto Wiyono(41) akan menyusuri jalan pantura sejauh 800 kilometer. Hari S akan berjalan, sedangkan Harto mengawal dengan menggunakan motor dengan membawa bekal kebutuhan selama perjalanan. Tak kurang 50 botol lumpur dibawa untuk diserahkan di tiap kota yang disinggahi.

Perjalanan ditempuh selama sebulan untuk sampai Jakarta. Saat tiba korban Lapindo ini berencana akan mendatangi Wisma Bakrie, DPR, Istana Presiden, dan juga bundaran Hotel Indonesia (HI). (cat/zar)

(c) Kanal Newsroom

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »