Lokasi Anda

Terbakar Gas Metan, Setahun Korban Lapindo Diabaikan

Derita Purwaningsih bermula ketika gelembung gas metan di rumah Oki Andrianto, warga Desa Siring Barat, meledak pada 7 September 2010. Gelembung gas metan yang mudah terbakar bertebaran di area sekitar lumpur Lapindo. Ledakan gas ketika itu diiringi api yang menjalar hingga ke warung Purwaningsih. Akibatnya, nyaris sekujur tubuh Purwaningsih terbakar. Devi Purbawiyanto, anak Purwaningsih, juga turut terkena luka bakar.

Hingga kini, Purwaningsih masih menjalani perawatan untuk luka bakarnya. Sudah banyak biaya dikeluarkan. Tidak tanggung-tanggung, sejak Purwaningsih dipulangkan paksa oleh Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo, biaya yang sudah dikeluarkannya sampai sekarang kurang lebih sudah mencapai Rp 200 juta. Biaya sebesar itu diperoleh Purwaningsih dari bantuan dan pinjaman dari sanak saudara dan teman-temannya. Lebih menyedihkan, rumahnya pun kini sudah dijaminkan ke bank untuk biaya berobat.

Tidak berhenti di sini, pada hari Selasa lalu (12/10), Purwaningsih harus menjalani operasi ortopedi pada kaki kirinya. Ini untuk memulihkan kulit dan otot kakinya akibat luka bakar. Kaki kanannya belum dioperasi, masih menunggu kondisi luka bakarnya kering. Lagi-lagi biaya yang harus dikeluarkan Purwaningsih dari kantong pribadinya mancapai Rp 20 juta lebih. Itu pun belum termasuk biaya rawat inap dan obat. Diperkirakan, keseluruhan biaya yang dikeluarkan Purwaningsih akan mencampai Rp 50 juta.

“Operasi mama saya ini sudah memakan biaya Rp 20 juta,” ujar Devi Purbawiyanto saat menunggu ibunya di rumah sakit RKZ Surabaya. “Dan mama harus menjalani rawat inap dan terapi selama 2 minggu. Kami sudah tidak ada biaya lagi. Untuk biaya operasi saja papa pinjam ke temannya dan dapat sumbangan dari anggota jemaat gereja,” cerita Devi.

Memang sangat memprihatinkan. Setelah menjadi korban kebakaran gas metan, Purwaningsih yang menjadi tulang punggung keluarga nyaris tidak bisa berkerja lagi. Warungnya pun hangus. Sedangkan suami Purwaningsih juga tidak bekerja setelah usaha toko kelontong gulung tikar. Jangankan untuk berobat, untuk kebutuhan sehari-hari saja, Purwaningsih mengandalkan belas kasihan dari anggota jamaat gereja dan saudara-saudaranya.

“Sejak usaha papa bangkrut akibat lumpur Lapindo, kehidupan keluarga saya serba kekurangan, sampai saya harus berhenti kuliah. Apalagi mama sekarang kondisinya kayak begini. Untuk kebutuhan sehari-hari kami dikirimin sembako dari anggota jemaat gereja,” kisah Devi.

Purwaningsih masih terus membutuhkan perawatan, dan jelas akan membutuhkan biaya besar. Kaki kanannya masih harus dioperasi, tentu setelah luka bakarnya mengering. Sementara, pihak pemerintah daerah baik itu bupati yang lama, maupaun Bupati Saiful Ilah dan Wakil Gubernur yang pernah menjanjikan menanggung biaya perobatan Purwaningsi sampai sembuh, tak pernah menepati janji.

“Dulu, setelah Mama pulang dari RKZ, Papa pernah mengirimkan surat ke Bupati Sidoarjo, tapi sampai sekarang tidak ada jawaban. Dan saat kami di RSUD Sidoarjo sehari setelah terjadi kebakaran gas metan, mereka berjanji akan menanggung biaya perawatan kami. Bahkan Kepala Humas RS Dr. Soutomo juga pernah berjanji akan merawan luka bakar kami sampai sembuh. Tapi semua itu hanya omong kosong,” ungkap Devi, kesal.

Karena itu, Devi sekeluarga hanya bisa merawat ibunya dengan bantuan dari para kerabat. Devi juga tidak bisa berbuat banyak karena kondisi fisiknya masih belum pulih. Masih terlihat bekas luka bakar di kedua kaki dan tangannya. Devi kesulitan mencari pekerjaan. Menurutnya, ia pernah mengirimkan surat lamaran ke perusahaan pada bulan Juli 2011 silam. Tapi sampai sekarang ia tidak menerima panggilan.

Terakhir Devi nekat pergi ke Bali untuk bekerja untuk distributor perusahaan roti. Tapi itu hanya bertahan hanya tiga bulan saja, karena ia merasa minder dengan kondisi fisiknya. Devi akhirnya pulang dan berhenti berkerja. “Saya terakhir kerja di Bali pada sebuah distributor Sari Roti. Tapi hanya tiga bulan saja,” ungkapnya.

Derita Purwaningsih dan Devi hanya potret kecil diabaikannya kesehatan warga di sekitar lumpur Lapindo. PT Lapindo Brantas yang menyebabkan menyebarnya gas metan di mana-mana sudah lepas tangan. Pemerintah, yang seharusnya bertanggung jawab atas nasib warga korban, juga terlihat cuek. Kebijakan pemerintah memasukkan wilayah Siring Barat dalam peta area terdampak tidaklah cukup jika risiko kesehatan warga tak pernah ditangani. (vik)

(cc) Kanal News Room

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »