Lapindo Bohong Lagi, Perumahan Korban Lapindo Tanpa Sertifikat

 

“Kami merasa dibohongi. Karena sampai hari ini banyak warga belum menerima sertifikat,” ungkap Agustinus Sixson, salah satu korban Lapindo yang tinggal di perumahan KNV. Sebagian korban Lapindo memang terpaksa menerima paket cash and resettlement dari pihak Lapindo sebagai ganti pembayaran sisa 80 persen jual-beli tanah dan bangunan yang tenggelam oleh lumpur panas. Saat itu, Lapindo tidak mau melunasi 80 persen secara cash and carry dengan dalih surat tanah warga yang berbentuk Letter C dan Pethok D tidak dapat dibuat transaksi jual-beli. KNV adalah bagian dari paket cash and resettlement yang disodorkan Lapindo.

Seperti sering ditampilkan di media elektronik, Lapindo sangat membanggakan perumahan KNV sebagai bentuk keberhasilannya menangani korban Lapindo. Kenyataannya jauh panggang dari api. Sertifikat kepemilikan digantung pihak Lapindo dan tidak diberikan warga korban. Dari 1.955 unit rumah, hanya sekitar 74 kavling yang menerima Akte Jual Beli (AJB) dan sertifikat, dan hanya 65 kavling yang menerima AJB (tanpa sertifikat).

Tidak hanya itu, banyak warga yang tinggal di KNV sampai kini juga belum memperoleh fasilitas listrik. “Ada sekitar 530 rumah sampai kini tidak mempunyai fasilitas listrik. Bahkan ada sebagian warga yang terpaksa mengunakan lilin untuk penerangan rumahnya,” ungkap Agustinus dengan nada kesal.

Banyak juga warga yang tinggal di KNV terpaksa memasang listrik sendiri. Ade Mahreni, misalnya. Warga yang tinggal di Blok CA12 No. 23A ini terpaksa memasang listrik sendiri karena hampir 2 tahun lebih dirinya tidak mendapatkan fasilitas listrik dari Minarak Lapindo. “Kami memasang listrik sendiri. Biaya yang saya keluarkan sebesar 1,5 juta untuk pasang listrik,” katanya.

Agustinus menambahkan, warga yang kini tinggal di KNV sampai kini juga tidak mempunyai makam sendiri. Sehingga ketika ada salah satu warga yang meninggal harus dimakamkan di Pemakaman Umum desa lain di kawasan Candi, Sidoarjo. “Warga tidak punya makam. Selama kurun waktu tinggal di KNV ada 9 warga yang meninggal, dan itu terpaksa harus dimakamkan di Pemakaman Umum. Ini harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.

Merasa tak henti-hentinya dibohongi Lapindo, Agustinus dan warga dalam waktu dekat ini berencana akan mendatangi Minarak Lapindo. Mereka akan mempertanyakan persoalan yang tengah dihadapi korban Lapindo yang tinggal di KNV ini. “Selama ini kami sudah mengalah. Saat realisasi 80 persen kami tidak keberatan diganti rumah, tapi juga masih dibohongi. Kami berharap Minarak menepati janji-janjinya,” ungkap Agustinus. (vik)

(c) Kanal News Room

Top
Translate »