Tanpa Sistem Peringatan Dini, Tanggul Lapindo Kembali Jebol

SIDOARJO—Anggaran Rp 1,3 triliun setahun ternyata tak menjamin keselamatan warga di sekitar luapan lumpur Lapindo. Tanpa ada peringatan dini apa pun, tanggul penahan lumpur di titik 22, yang berada persis di sebelah jalur kereta api Surabaya-Blitar, jebol pada Kamis siang (10/02/2011). Peninggian tanggul dan pemasangan bronjong (kawat dan batu) oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) tak berhasil menahan laju lumpur. BPLS juga tidak memasang sistem peringatan dini di sekitar kawasan berisiko itu.

Akuwan, warga yang sehari-hari berada di sekitar tanggul yang longsor mengatakan, awalnya tanggul titik 22 ini sudah retak sekitar pukul 11.00. “Jam 11.00 kondisi tanggul sudah retak. Dan tidak berselang langsung ambrol dengan tiba-iba. Mungkin ini karena pembangunan bronjong asal-asalan,” ujarnya. Sumono, warga lainnya, juga memberikan keterangan serupa. “Jam 11.00 sudah kelihatan retak. Jadi kita tidak berani mangkal di situ. Eh, tak tahunya terjadi tanggul longsor.” Sumono ojek tanggul yang biasa mangkal di dekat tanggul yang ambrol tersebut.

Akibat ambrolnya tanggul, jalur kereta api terganggu. Sempat terjadi penundaan pemberangkatan KA Penataran jurusan Surabaya-Blitar dan KA komuter Surabaya-Sidoarjo. “Kami terpaksa menunda pejalanan kereta, menunggu kondisi aman dulu. Kalau pun kondisinya sudah aman, mungkin kondisi kecepatan akan kita kurangin menjadi 5 km/jam,” ungkap Winarto, Humas PT Kereta Api Daerah Operasi (Daop) VIII Surabaya.

Herannya, Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Akhamd Khusairi menyatakan kondisi tanggul masih aman. “Tanggul yang ambrol hanya sisi barat saja, karena kondisi area tanggul yang ambrol tanahnya memang sangat labil. Sebelumya juga pernah terjadi over toping (meluap),” ucap Khusairi.

“Kita akan berupaya secepat mungkin membetulkan kondisi tanggul yang ambrol. Awalnya kita upayakan untuk mengatur kemiringan, agar tanggul benar-benar kuat. Dan akan kita perbaiki bronjong yang ikut ambrol tersebut,” tambahnya.

Kenyataannya, banyak warga yang berada di sebelah barat tanggul khawatir. Mereka takut jika lumpur yang sudah setinggi 10 meter tiba-tiba jebol. “Kami sampai sekarang masih khawatir dengan kondisi tanggul yang sudah tinggi itu. Kalau langsung jebol, siapa yang mau tanggung jawab,” ungkap salah satu warga Siring Barat yang sedang melihat kondisi tanggul tersebut. (vik)

Top
Translate »