Mengendus Hulu Air Lapindo

Iskandar, yang memimpin salah satu sesi lokakarya, bukan kesal pada topik lumpur itu. Debat berlarat-larat tentang penyebab semburan lumpur yang membuat Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu kehilangan selera. Satu kelompok meyakini muntahan lumpur itu terjadi akibat kelalaian dalam proses pengeboran, kelompok lain menyodorkan bukti bahwa gempa di Yogyakartalah pemicunya. “Bukannya malah fokus membahas cara menghentikan semburan lumpur,” katanya pekan lalu.

Empat setengah tahun sudah lumpur dari lapangan Lapindo membanjiri Kecamatan Porong dan menenggelamkan 18 desa. Kawasan itu sekarang menjadi lautan lumpur. Rupa-rupa cara sudah dilakukan untuk menyumpal lubang semburan, dari pengeboran miring hingga menimbun lubang semburan dengan puluhan bola beton. Tapi semburan lumpur panas itu tak kunjung reda.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyo-no pun tak sabar lagi dan memerintahkan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo mencari solusi permanen. “Tapi belum ada metode yang masuk akal untuk menghentikan semburan,” kata juru bicara Badan Penanggulangan, Achmad Zulkarnain.

Memang begitu banyak usulan tek-nologi untuk menyumbat lumpur yang dialamatkan ke Badan Penanggulangan. Geolog Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya, Amien Widodo, misalnya, tetap meyakini teknik pengeboran miring atau relief well sebagai metode paling ampuh untuk mematikan semburan lumpur Lapindo.

Cara itu sudah terbukti manjur di Brunei Darussalam. Pada 1979, akibat kesalahan dalam pengeboran, lumpur menyembur di lepas pantai Brunei. Perlu waktu hampir 30 tahun dan 20 relief well untuk menyumpalnya. Teknik ini pernah gagal di Lapindo, kata Amien, karena lokasi pengeboran kelewat dekat dengan pusat semburan. Dia mengusulkan pengeboran miring dilakukan dari luar tanggul lumpur.

l l l
Sejak 29 Mei 2006, air panas bercampur lumpur menyembur dari Blok Brantas. Iskandar Zulkarnain, 51 tahun, menghitung volumenya sudah melampaui 150 juta meter kubik. Sudah berulang kali tanggul penahan lumpur diperluas, juga diperkuat, berulang kali pula tanggul setinggi 20 meter itu jebol.

Dalam lumpur panas, kata Iskandar, terkandung 70 persen air. Sejak Mei lalu, Iskandar dan tim Pusat Penelitian Geoteknologi menelisik dari mana air lumpur Lapindo itu bersumber. Dia berkeyakinan, ada pasokan air selama empat tahun ini yang jumlahnya diperkirakan tak kurang dari 75 juta meter kubik. Ia menyusup sebagai air tanah di kedalaman 700 meter hingga 3 kilometer ke lapisan tanah di bawah danau lumpur. “Pertanyaannya, dari mana air sebanyak itu,” kata Iskandar.

Menurut Iskandar, kemungkinannya sangat kecil air Lapindo berasal dari cekungan di Porong itu sendiri, walaupun di sekitar lautan lumpur itu memang ada Sungai Porong dan juga rawa-rawa. Buktinya, kata Karit Lumbangaol, anggota tim, air rawa maupun Sungai Porong tidak pernah menyusut. Berarti, air lumpur Lapindo dipasok dari daerah di luar lautan lumpur.

Iskandar meragukan intrusi air laut dari Selat Madura sebagai sumbernya. Penelitian Antonio Mazzini dari Universitas Oslo, Norwegia, bersama geolog G.G. Akhmanov dari Moscow State University, Rusia, pada 2008, menunjukkan kadar garam air lumpur Lapindo 39 persen lebih rendah daripada air laut. Demikian pula dengan kandungan unsur magnesium, kalium, dan sulfur oksida air Lapindo, juga jauh lebih rendah daripada air laut di Selat Madura.

Analisis air dengan menggunakan isotop oksigen dan deuterium yang dilakukan Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral beberapa waktu lalu juga menyimpulkan sumber air lumpur Lapindo berhu-bungan dengan magma. Mata Iskandar dan timnya pun mengarah ke barat daya Porong, ke arah Gunung Penanggungan, sekitar delapan kilometer dari semburan lumpur.

Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia Lambok M. Hutasoit pernah mengajukan hipotesis serupa. Melihat tingginya volume semburan lumpur, dia menduga air Lapindo berasal dari -daerah yang cukup tinggi. Untuk memas-tikan hubungan lumpur Porong dengan daerah resapan air di Gunung Penanggungan, Lambok mengusulkan -analisis isotop pada air lumpur. Kalau air itu berumur tua, kata dia, berarti yang terperangkap memang air dalam formasi tanah di bawah Porong. Jika umur air itu masih muda, berarti ada air tanah yang terbawa masuk.

Agar air bisa mengalir hingga menembus formasi di bawah danau lumpur, ia memerlukan zona tembus air atau permeable. Zona ini biasanya berupa struktur patahan yang poros. “Fungsinya serupa dengan pipa air di bawah tanah,” kata Karit. Zona itu berada tepat di antara dua patahan lempeng.

Dari penelitian dengan metode gaya berat dan audio-magnetotelluric serta magnetotelluric, ditemukan patahan yang melintang dari arah barat daya ke timur laut. Sesar ini membentang dari Desa Watukosek di kaki Gunung Penanggungan dan melewati Porong. Sesar Watukosek ini berada di keda-laman 200 meter dan semakin terbenam hingga kedalaman 1.500-3.000 meter saat mengarah ke Porong.

Zona itulah, kata Iskandar, yang diduga merupakan “pipa” yang mengge-lontorkan air dari Penanggungan ke lautan lumpur Lapindo. Untuk memastikan zona aliran air temuan tim Pusat Penelitian Geoteknologi, masih perlu pengeboran di sejumlah titik. Jika temuan awal Iskandar ini nanti benar-benar terbukti, bisa jadi akan ada jalan untuk menyumbat semburan lumpur panas itu.

Caranya dengan mencekik “pipa” air tersebut dengan mengubah zona tembus air menjadi zona kedap air. Misalnya dengan menyuntikkan partikel-partikel halus ke dalam zona tembus air itu. Partikel ini akan menyumbat pori-pori yang menjadi jalur air. Jika pasokan air mampat, kemungkinan lumpur Lapindo pun akan macet.

Cara itu, menurut Iskandar, akan menaikkan tinggi muka air tanah di zona antara Lapindo dan Gunung Penanggungan. Sekali pukul, dua target kena.

Sapto Pradityo, Anwar Siswadi (Bandung), Eko Widianto (Sidoarjo)

(c) Majalah Tempo

Top
Translate »