Gas Metana Muncul di Luar Peta Terdampak, Warga Sidoarjo Panik

Sidoarjo – Semburan gas metana bercampur air dan lumpur (bubble) kembali muncul di luar peta terdampak. Semburan gas metana keluar di rumah Jamin, warga Desa Bringin RT 8 RW 3 Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Lokasi semburan sekitar 1,5 kilometer arah barat tanggul penahan lumpur. “Kami panik semburan semakin membesar,” kata Tohari kerabat Jamin, Sabtu (21/8).

Tohari bertugas menjaga rumah yang ditinggalkan Jamin sejak dua tahun lalu. Mengetahui keluar semburan air, Tohari berusaha menghentikan semburan, menimbunnya dengan tanah dan bebatuan. Namun, upaya menghentikan semburan gagal. Air bercampur lumpur menggenangi lantai rumah tersebut.

Ketinggian semburan air bercampur lumpur sekitar 2 meter hingga merusak atap rumah. Semburan gas metana ini menyebabkan atap rumah porak poranda akibat terdesak semburan gas bercampur air dan lumpur tersebut. Semburan gas keluar dari sumur yang terletak di ruang dapur rumah, akibatnya tembok dapur retak.

Ia melaporkan semburan gas metana ini kepada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. Selanjutnya, tim Geo Hazard BPLS turun ke lokasi untuk menghentikan semburan. Petugas memasang pipa untuk mengalirkan air dan lumpur ke saluran pembuangan air.

Sedangkan gas metana dilepaskan ke udara bebas menghindari ledakan dan kebakaran. “Kandungan gas metana fluktuatif,” kata juru bicara BPLS, Akhmad Zulkarnain.

Menurutnya, fenomena semburan gas metana ini merupakan dampak proses deformasi geologi. Akibat retakan aktif di dekat pusat semburan sehingga mendorong gas metana yang tersimpan di bawah permukaan tanah keluar rongga tersebut. Sumur merupakan salah satu celah yang mudah ditembus gas metana tersebut.

Ia memperkirakan fenomena munculnya semburan baru akan kembali terjadi. Bahkan, semburan yang sebelumnya mati akan kembali aktif. Selama sepekan terakhir, muncul dua semburan salah satunya berada di Panti Asuhan Jatirejo. Desa Bringin, kata Zulkarnain, kerap muncul bubble dan kadang mati sendiri. (EKO WIDIANTO)

 

(c) TEMPO Interaktif

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »