Penantian Budi yang Tidak Kunjung Berbalas Budi

SIDOARJO – Mengenakan sorban ala habib, Budi duduk di trotoar jalan di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (24/6). Air mineral di gelas yang dia pegang tinggal separo. Poster bernada protes yang semula diangkat, kini hanya ditaruh di sisinya.

Budi adalah salah seorang dari sekitar 100 pengunjukrasa yang pada Kamis siang (24/6) menuntut sisa pembayaran 80 persen secara tunai dari PT Lapindo Brantas. Budi, bekas warga Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, tak sudi mengikuti skema cicilan Rp 15 juta tiap bulan yang ditawarkan Lapindo.

Bersama budi ada sekitar 60 kepala keluarga yang tergabung dalam kelompok “77 berkas” (sebutan kelompok yang menuntut ganti rugi cash and carry). “Kami maunya dibayar tunai seperti komitmen Lapindo dan Presiden, bukan diincrit-incrit (dicicil),” ujar Budi.

Budi menilai, skema cicilan yang saat ini digunakan Lapindo melalui PT Minarak Lapindo Jaya untuk membayar ganti rugi, sama saja dengan melanggar Kepres 14/2007. Karena itu Budi dan kelompoknya bersikeras meminta sisa 80 persen itu dibayar tunai. “Saya berdosa kalau melanggar aturan,” tutur Budi yang saat ini mengontrak rumah di Desa Kedungkambil, Kecamatan Porong.

Untuk menuntut haknya itu, Budi dan kawan-kawannya telah puluhan kali berunjukrasa ke Istana Negara. Setiap kali berangkat ke Jakarta, mereka merogoh kantong sendiri. Berunglah mereka, karena tidak harus membiayai akomodasi. Selama di Jakarta, mdereka ditampung di kantor YLBHI, KontraS dan Komnas HAM. “Kami demo sampai subuh. Kalau ada rekor MURI demo terlama kami inilah pemenangya,” ucap Budi tanpa ekspresi.

Harapan Budi sempat tesembul saat dia dan beberapa warga korban lumpur dipanggil ke kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas tahun lalu. Di hadapan mereka, menurut Budi, Presiden SBY berjanji akan menuntaskan seluruh ganti rugi, baik yang mengikuti skema cicilan atau cash and carry. “Saya dengar sendiri beliau berkata begitu,” kata Budi.

Kini, empat tahun berselang sejak Budi terusir dari rumahnya, janji Presiden itu tidak terwujud. Budi bahkan menemukan foto di koran bergambar SBY tengah bersalaman dengan Aburizal Bakrie dalam kapasitas sebagai ketua dan ketua harian Sekretariat Gabungan Koalisi Partai pendudkung pemerintahan SBY.

Foto itu menginspirasi Budi untuk membuat karikatur berupa wayang dari bahan kardus bekas. Tampak dua orang berwajah lucu sedang berjabat tangan. Di bagian bawah gambar karikatur, Budi menulis: “Kolaborasi penguasa-pengusaha, rakyat sengsara.”

Karikatur itu turut dibawa Budi saat happening art di tanggul lumpur dalam rangka peringatan empat tahun semburan lumpur, 29 Mei lalu. “Karikatur saya diminta seniman Yogyakarta untuk dipamerkan di sana.” KUKUH S WIBOWO.

(c) TEMPO Interaktif

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »