Sekilas Buku 29 Cerita Menentang Bungkam

Sidoarjo – “Buku ini mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan, agar cerita tak turut karam,” tulis Mujtaba Hamdi, penyunting buku 29 Cerita Menentang Bungkam, dalam pengantarnya di buku ini. Buku ini juga sebagai jawaban citra yang dibangun oleh Bakrie, melalui media-media yang dia modali, bahwa: Tanah korban telah diganti rugi dengan uang triliunan. Warga telah kaya raya. Dan dibumbui dengan ujaran Lapindo dan Bakrie tak bersalah. 

Di buku ini diceritakan betapa lumpur telah merusak berbagai sendi kehidupan warga di 19 Desa di tiga kecamatan. Di wilayah ekonomi misalnya, lumpur Lapindo telah menghajar tanpa ampun usaha-usaha kecil milik warga. Hubungan harmonis keluarga, relasi sosial, juga tempat bermain anak, juga tak luput dari hajaran lumpur Lapindo dan itu terpotret abadi di buku ini. Di cerita-cerita lain, di dalam buku ini, lumpur juga merusak tradisi dan kesenian yang selama ini tumbuh di masyarakat mayoritas muslim tradisional.

Yang tak kalah rusaknya, akibat lumpur Lapindo, adalah bidang pendidikan. Ceritanya memotret dari dekat salah satu dari 33 sekolah yang remuk dihajar lumpur. Buku ini juga menyajikan cerita soal kerusakan-kerusakan lingkungan akibat lumpur Lapindo. Di sektor hukum, Moneygram money order yang juga ada di buku ini, juga bercerita soal bagaimana sulitnya para korban menuntut haknya.

Untuk memudahkan para pembaca buku ini dikelompokkan dalam 7 bagian. Setelah Pendahuluan, dilanjutkan bagian-bagian yang disesuaikan dengan sendi-sendi yang dirusak oleh Lapindo: Ekonomi, Sosial, Budaya, Pendidikan, Lingkungan, Hukum, dan Politik.

Kekuatan buku ini adalah semua cerita ditulis oleh 8 orang korban Lapinda dan dari sudut pandang mereka dan cerita-cerita ini sangat berbeda dengan citra yang dibangun oleh Bakrie dan media-media yang didanainya. Buku ini juga memetakan luasnya cakupan kerusakan yang diakibatkan oleh lumpur Lapindo dan tak sesederhana seperti yang dibayangkan Bakrie yang hanya menilai kerusakan pada tanah, sawah dan rumah.

(c) Kanal News Room

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »