Menghadapi UN dengan Kondisi Darurat

SIDOARJO – Siswa-siswi korban lumpur Lapindo menghadapi Ujian Nasional dengan fasilitas belajar yang tidak memadai. Meski sudah hampir 4 tahun berlangsung, bangunan-bangunan sekolah yang terendam lumpur belum juga dibangun kembali. “Hampir 4 tahun kami melakukan proses belajar-mengajar di gedung milik SMP Negeri 1 Porong. Masuk siang mulai jam 13.00 sampai jam 17.00,” kata Kiyas, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Porong, Sidoarjo.

Memang, sejak luapan lumpur panas Lapindo menenggelamkan sekolahan yang berada di Desa Renokenongo, Porong itu, proses belajar mengajar sampai sekarang masih menumpang di SMP Negeri 1 Porong. Hampir semua aset milik SMP 2 Porong hilang terendam lumpur. Mulai meja-kursi, laboratorium, lapangan olah raga, hingga buku-buku pelajaran tak banyak yang bisa diselamatkan.

Dan saat menghadapi Ujian Nasional (UN), SMP 2 Porong ini meminjam gedung SMU Negeri 1 Porong. “Kami, setiap tahun, setelah lumpur Lapindo menenggelamkan gedung kami, anak-anak melakukan UN di Gedung SMU 1 Porong,” tutur Kiyas.

SMP 2 Porong ini memang dibuatkan gedung baru di Desa Lajuk, Kecamatan Porong, tapi sampai sekarang belum selesai. Gedung baru ini terdiri dari 9 ruangan kelas, 1 ruangan kepala sekolah dan 1 ruangan untuk guru. Gedung baru ini didanai pemerintah lewat APBN. Rencananya akan ditempati pada awal pelajaran tahun 2010-2011.

Nasib sekolah-sekolah lain lebih parah. Akibat lumpur Lapindo, setidaknya 33 bangunan sekolah tenggelam, terdiri dari 9 TK/RA, 15 SD/MI, 5 SMP/MTs, dan 4 MA/SMK, plus dua pondok pesantren. Selain SMP 2 Porong, semua tidak mendapatkan penanganan serius hingga saat ini. Hampir semua akhirnya menempati bangunan-bangunan darurat. Mungkin juga tak layak disebut bangunan sekolah.

MI Ma’arif Jatirejo Porong, misalnya. Sekolah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) ini sampai sekarang melakukan proses belajar mengajar di Ruko Perumahan Sentra, Porong. Ada juga MTs Abil Hasan As-Sadzili, Jatirejo. Semenjak ditenggelamkan pumpur Lapindo 2006 silam, gedung sekolah ini sampai sekarang masih nebeng pada gedung MI Nurul Huda Kedungboto, Porong. Dan sampai sekarang hampir tidak ada bantuan dari pemerintah. 

Sugiono, Kepala Sekolah  MTs Abil Hasan As Sadzili mengatakan, “Sejak sekolahan ini terendam luapan lumpur panas sampai sekarang tidak ada kejelasan soal nasib sekolahan ini.” Sekolah ini pernah dijanjikan akan dibangunkan sekolah baru oleh pemerintah, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. KH. Maksum Zuber, pengasuh Yayasan Abil Hasan As Sadzili, menuturkan, “Pemerintah pernah mengusulkan akan merelokasi sekolahan ini di daerah Sukodono, Sidoarjo, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan.”

Sementara itu, kebanyakan sekolah dasar yang ditenggelamkan lumpur Lapindo dilebur dengan sekolah dasar lain. Misalnya, Sekolah Dasar Negeri II Jatirejo dilebur dengan Sekolah Dasar Negeri I Jatirejo; SDN I, SDN II Kedung bendo dilebur dengan SD Negeri 1 ketapang; SD Negeri  III Kedungbendo sekarang dilebur di  SDN 1 Kali Sampurno Tanggulangin.

Anak-anak korban Lapindo menjadi korban ganda. Selain kehilangan rumah, dan tempat bermain, mereka kehilangan hak-hak memperoleh pendidikan yang layak. (novik)

(c) Kanal News Room

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »