Pengungsi Korban Lumpur Lapindo Kesulitan Air dan Listrik

Di lahan relokasi tersebut, pengungsi mendirikan 80 barak darurat berdinding tripleks dan beratap asbes. Rencananya, mereka akan mendirikan 140 unit barak darurat berukuran 3 meter x 5 meter. Barak tersebut dibangun untuk warga korban lumpur yang belum mem iliki rumah kontrakan.

“Kami masih membuat sumur untuk mendapatkan air bersih. Untuk keperluan penerangan, kami akan menyewa genset karena bila memasang jaringan listrik baru dari PLN perlu biaya besar,” ucap Pitanto (47), koordinator pengungsi, Minggu (17/5) di Sidoarjo.

Pengungsi korban lumpur di Pasar Porong Baru membeli lahan relokasi tersebut pada 19 Maret 2009 dari Pabrik Gula Kremboong. Harga tanah yang dibeli pengungsi berkisar antara Rp 75.000 hingga Rp 115.000 meter per segi. Tanaman tebu yang berada di lahan relokasi sudah ditebangi seluas lima hektar.

Para pengungsi keluar dari Pasar Porong Baru yang mereka huni sejak November 2006 setelah menerima uang muka ganti rugi 20 persen dari Lapindo. Sedianya, pengungsi akan keluar dari pasar pada akhir April 2009 lalu. Namun, karena masih ada beberapa anak-anak di pasar tengah mengikuti ujian sekolah, rencana kepindahan ditunda hingga pertengahan Mei 2009. aris prasetyo/kcm

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »