Akibat Amblesan Tanah, Rumah Korban Lapindo Roboh

Pada saat kejadian, Bu  Astuti sedang berada di rumah salah seorang kakaknya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. “Waktu itu suaranya besar banget. Mantu saya ini lagi ngeloni (menidurkan, Red.) anaknya. Bapaknya lagi menjahit. Saya kebetulan di rumah, lagi di belakang, rumah kakak saya. Anak-anak yang lain sudah pada berangkat kerja,” tambah Bu Astuti.

Bagian rumah yang ambruk adalah kamar milik Astuti dan Zulkan. Namun akibat kondisinya yang sudah sangat mengkhawatirkan, kamar tersebut sudah dua minggu tidak ditempati. Retakan-retakan di dindingnya sudah sangat besar sehingga oleh Zulkan dipasangi kayu-kayu penyangga. Namun karena amblesan tanah di tempat tersebut terus saja terjadi. Retakannya pun semakin besar dan akhirnya dinding kamar tersebut ambruk juga.
Astuti mengaku beruntung tidak sampai tertimpa reruntuhan. Sebelum kejadian, dia sedang berada di dapur untuk memasak. Reruntuhan dari kamar yang ambruk itu jatuh di dapurnya. “Kalau misalnya kejadiaannya jam tujuh-an gitu, saya bisa ketiban tembok, Mas. Untung saja tidak sampai ada yang luka,” ujar Astuti.

Kondisi rumah Zulkan memang sudah sangat tidak layak. Di beberapa tempat terdapat retakan-retakan dan dinding-dinding yang pecah. Rontokan dindingnya pun hampir tiap hari jatuh. Oleh Zulkan bagian dinding yang retak dan pecah serta kusennya dipasangi kayu penyangga.
Sementara, sumur dan bagian kamar mandi, dinding-dindingnya juga pecah. Bagian lantainya juga retak-retak semua. Amblesan tanah juga sangat jelas terlihat. “Sebelum kemasukan lumpur, rumah saya tidak begini, Mas. Rapih, bersih. Lantainya juga item bersih. Ditambal, pecah lagi, ditambal lagi, pecah lagi, sampai mbelenger (bosan. Red), Mas,” kisah Astuti.

Biaya perbaikan rumah selama ini ditanggung sendiri Zulkan. Dari pekerjaan sebagai penjahit, Zulkan hanya berpenghasilan Rp. 10.000 setiap hari. Karenanya Zulkan terpaksa harus bekerja juga sebagai pengatur jalan di Jalan Raya Porong. Dari pekerjaan ini Zulkan biasanya mendapatkan Rp. 25.000 dalam sehari. Untunglah keempat orang anaknya telah bekerja dan bisa membantu perekonomian keluarga.

Lumpur Lapindo masuk ke rumah Astuti pada 3 Januari 2008. Pada saat itu genangan lumpur tingginya sampai sepinggang orang dewasa. “Tanggal 25 Januari 2008, cucu saya yang tinggal di rumah ini lahir. Waktu kita semua masih pada tinggal di pengungsian,” ujar Astuti. Oleh keluarga Astuti, rumah tersebut akhirnya dibersihkan sendiri dari endapan lumpur Lapindo dan akhirnya bisa ditinggali lagi. 

Namun sejak saat itu kondisi lingkungan di sekitar rumah tersebut kian hari kian memburuk. Amblesan tanah terus saja terjadi. Rumah-rumah pun dindingnya retak-retak bahkan pecah. Amblesan tanah juga menyebabkan terganggunya aliran air warga di tempat itu. Tiba-tiba saja daerah yang sebelumnya tinggi jadi rendah karena amblesan tanah. Akibatnya hampir setiap hujan deras mengguyur rumah warga kebanjiran.

Pompa yang disediakan oleh BPLS untuk menyedot air agar tidak tergenang dinilai warga kurang bekerja maksimal. Astuti  mengaku sejak musim hujan sekarang ini saja, sudah 4 kali rumahnya kemasukan air. Salah satu kamar yang terkena masukan air mengeluarkan bau gas yang menyengat. Airnya pun seperti berminyak-minyak. “Baunya kayak elpiji. Terus, airnya kayak ngelengo-ngelengo (berminyak-minyak. Red), gitu,” ujar Astuti kembali.

Atas kejadian ambruknya rumah warga ini, Tim 16 Kelurahan Siring Barat menyatakan telah menghubungi media dan aparat terkait dalam hal ini BPLS dan pemerintah. “Mulai dari pemerintah kecamatan sampai pemerintah kabupaten telah kami hubungi,” ujar Jarot Suseno, selaku koordinator Tim 16 Kelurahan Siring Barat. Beberapa jam setelah kejadian, Wakil Ketua DPRD Sidoarjo, Jalaludin Alham, mendatangi lokasi kejadian. Kepada keluarga Zulkan, anggota DPRD dari Partai Demokrat tersebut menawarkan untuk tinggal sementara di rumah dinasnya. Zulkan sekeluarga akan diberikan satu kamar sendiri.

“Tapi tawaran tersebut langsung kami tolak. Soalnya kami menilai tawaran tersebut mengandung unsur politis,” tambah Jarot.

Tim 16 Kelurahan Siring Barat selanjutnya menyatakan jika kejadian ini tidak ditanggapi serius oleh pemerintah dan aparat terkait, warga mengancam akan mendirikan tenda di jalan untuk tempat tinggal mereka. “Atau mungkin juga kami akan tidur di Kantor Humas BPLS di Desa Mindi atau kantor mereka di Sidoarjo,” lanjut Jarot.

Astuti sendiri ketika ditanyai harapannya ke depan hanya menyatakan ingin segera pindah dari rumahnya yang sekarang. “Maunya sih, semua rumah warga yang ada di Siring Barat ini segera dibeli sama pemerintah. Biar pada bisa cepat pindah,” ungkap Astuti. [mas]

Top
Translate »