Lokasi Anda

Renokenongo Ditanggul, Sekolah Khalid bin Walid Diliburkan

korbanlumpur.info – Pasca bencana lumpur Lapindo kondisi Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Khalid bin Walid di Renokenongo Porong kian memprihatinkan; sudah bangunannya retak karena tanah yang ditempati ambles kini dibanjiri air asin pula.

Selasa (21/10) banjir menutup akses jalan masuk sekolah menyebabkan ratusan siswa tiga sekolah ini tidak bisa masuk ke ruang kelas. Mereka bergerombol di sebuah warung tak jauh dari sana.

“Kami tidak meliburkan cuma menyuruh mereka untuk belajar di rumah dua hari (ke depan),” tutur Sri Retno, kepala MTs Khalid bin Walid.

Sejak tanggul cincin pusat semburan lumpur jebol Agustus lalu dan sengaja tak diperbaiki hingga kini sedikit demi sedikit Renokenongo menjadi lautan dan sekolah Khalid bin Walid sebagai sekolah satu-satunya yang masih bertahan juga kebanjiran.

Selain sekolah milik Nahdlatul Ulama ini, di Renokenongo ada empat sekolah lainnya, yakni; Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Sekolah Dasar Negeri I, II Renokenongo, dan SMP Negeri II Porong dan sekolah-sekolah ini sudah dipindah semua.

“TK, SD dan SMP sudah pindah semua setelah ledakan pipa gas (pertamina; 22 November 2006). Tinggal Khalid bin Walid yang bertahan,” tutur Lilik Kaminah, warga Renokenongo yang mengungsi di Pasar Baru Porong-cum- guru TK Muhajirin.

Menurut kepala MA Khalid bin Walid; Ali Mas’ad, banjir ini bukan yang pertama dialami sekolahnya, sebelumnya, dua kali sekolah ini kebanjiran lumpur, yakni pada Agustus 2006, kemudian setelah ledakan pipa gas pertamina. Meski repot sekali sekolah ini tetap menjalankan proses belajar mengajar.

MI, MTs, dan MA ini menjadi sekolah alternatif bagi warga tidak mampu dari korban lumpur Lapindo karena sekolah ini membebaskan SPP buat para korban.

Saat saya tanya apa duitnya dari Lapindo? Dengan tegas Mas’ad menjawab tidak. Lapindo tak memberi apapun pada sekolah ini selain Rp. 2.400.000 untuk biaya pindah-pindah kursi-meja pada saat luapan lumpur pasca ledakan pipa gas pertamina.

“Duitnya dari Agniya (orang-orang kaya) yang menyumbang sekolah ini,” tutur Mas’ad.

Sebenarnya banjir ini sudah mulai menggenangi sekolah Khalid bin Walid sejak bulan puasa lalu. Namun masih bisa dialirkan ke tempat yang lebih rendah. Meski terganggu dan khawatir kalau-kalau sekolahnya rubuh sewaktu-waktu namun proses belajar mengajar tetap di jalankan.

“Kami terpaksa libur lebih awal saat puasa,” tutur salah seorang guru saat itu.

Kalau kemarin air masih bisa dialirkan sekarang sudah tak ada harapan lagi untuk dialirkan, pasalnya, sejak Jum’at lalu desa Renokenongo mulai ditanggul. Penanggulan ini menuai protes dari warga karena sekitar 171 keluarga yang masih bertahan di rumah mereka karena belum mendapatkan pemabayaran 20 % dari tanah mereka. Haji Danu dan putranya Anang, warga Renokenongo, ditangkap karena aksi ini dan hingga hari ini belum dibebaskan meski tuntutannya tidak jelas.

Menurut Mas’ad, saat ini MA Khalid bin Walid sedang menjalani tes tengah semester dan tes ini terpaksa dihentikan. “Jumat depan siswa-siswa kami suruh masuk lagi dan untuk sementara menempati masjid (tak jauh dari lokasi sekolah) karena ujian mesti diselesaikan,” jelas Mas’ad.

Sri Retno merencanakan untuk memindahkan ruang sekolah ke desa sebelah timur Renokenongo dengan pertimbangan kebanyakan siswa sekolah ini berasal dari desa-desa sebelah timur. Rencana ini belum jelas karena meski terkena musibah mereka masih diribetkan dengan urusan perijinan dan tak tahu akan kapan pindahnya.

“Kami masih mengurus perijinannya,” tutur Retno.[mam]

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »