KOMPAS – Geolog Dunia Yakin Lumpur Tak Dipicu Gempa

”Pemungutan suara diambil setelah empat presentasi dan tanya jawab hingga dua
setengah jam,” kata ahli pengeboran minyak anggota Drilling Engineers Club (DEC)
Susila Lusiaga kepada wartawan di Jakarta, Kamis (30/10). Kamis pagi, ia dan
ahli perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Rudi Rubiandini baru tiba dari
Cape Town.

Sejauh ini, hasil pemungutan suara itu menjadi dukungan terbesar bahwa
semburan lumpur tak terkait gempa. Sebaliknya, terkait pengeboran sumur
Banjarpanji- 1 (BP-1).

Sebelumnya, secara individu dan dalam kelompok-kelompok kecil, para geolog
dan ahli pengeboran menyatakan pengeboranlah pemicu utama, yang dibantah
geolog-geolog lain. Dua kubu pun tercipta.

Atas dasar hasil pemungutan suara itu pula, Gerakan Menutup Lumpur Lapindo
(GMLL) meminta pemerintah serius menanggapinya. Bahkan, pemerintah didesak
menjadikan hasil diskusi itu sebagai salah satu bukti penguat kasus gugatan
hukum terhadap Lapindo Brantas Inc.

”Sikap (pemungutan suara) itu jelas dari para pihak independen yang
meyakinkan dan dapat dipercaya. Itu layak dipertimbangkan,” kata Taufik Basari
dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat, salah satu anggota GMLL.

Berdasarkan hasil pertemuan di Cape Town, GMLL akan menyurati Presiden.
Intinya, meminta agar penanganan hukum dan sosial diperbaiki.

”Surat akan segera kami kirim dalam waktu dekat,” kata salah satu deklarator
GMLL Letjen Mar (Purn) Soeharto.

Dihubungi di Cape Town, geolog yang juga Senior Vice President PT Energi Mega
Persada Bambang Istadi mengatakan, pemungutan suara tidak mewakili pendapat
geolog seluruh dunia. Lama presentasi dan diskusi juga terbatas.

”Namun, kesempatan itu membuka peluang menentukan kerja sama menentukan
kejadian sebenarnya,” kata dia. Ia dan Nurrochmat Sawolo, Senior Drilling
Adviser PT Energi Mega Persada, memaparkan fakta dan data seputar pengeboran
sumur BP-1 dalam sesi diskusi tersebut.

Rencananya, lanjut Bambang, Lapindo akan mengadakan forum diskusi tertutup,
termasuk mengundang geolog Inggris Richard Davies, yang menyatakan pengeboran
sebagai pemicu semburan, untuk membaca dan menganalisa data serta fakta
pengeboran. ”Mari saling terbuka, tanpa prasangka. Analisa data dari hasil
lapangan,” kata dia.

Penderitaan warga

Di tengah pembahasan geolog tingkat dunia, London, Inggris, dan Cape Town,
Afrika Selatan, puluhan ribu warga korban lumpur masih tinggal dalam
kekhawatiran. ”Warga fokus pada tuntutan yang belum juga dipenuhi,” kata
pendamping warga, Paring Waluyo.

Saat ini, tak sedikit warga yang belum menerima ganti rugi 20 persen. Apalagi
sisa 80 persennya. Kelompok warga yang menerima skema pindah tempat tinggal dan
kembalian pun, mengeluhkan sistem pengangsuran kembalian.

”Semua skema yang dipilih warga untuk ganti rugi, menyisakan kekecewaan
karena pembayaran tersendat dan itu terus bertambah,” kata Paring. Sementara
itu, semburan lumpur terus terjadi tanpa solusi lain, selain penanggulangan dan
mengalirkan ke sungai yang terkendala.

Pihak Lapindo, hingga awal September 2008, mengaku telah mengucurkan dana Rp
4,39 triliun untuk berbagai keperluan. (GSA)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/31/01082166/geolog.dunia.yakin.lumpur.tak.dipicu.gempa

 

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »