ANTARA – Semburan Lumpur Sidoarjo Diperkirakan Berlangsung 140 Tahunasus Lapindo Butuh Advokasi Internasional

Dalam konferensi geologi internasional yang berlangsung 21-22 Oktober lalu,
semua geolog internasional sepakat semburan lumpur Sidoarjo (Lusi), yang
dikenal sebagai lumpur Lapindo adalah sebuah mud volcano yang biasa muncul
akibat remobilisasi sedimen dan fluida cekungan bawah tanah.

Gunung lumpur itu sudah tidak menjadi isu hangat lagi dalam konferensi geologi
internasional yang berlangsung di Burlington House Piccadilly London. Namun isu
pemicu terjadinya Mud Volcano menjadi fokus diskusi dalam pertemuan pakar
geologi dunia itu.

Beberapa geolog kelas dunia itu bahkan berpendapat, merasa beruntung karena
bisa menjadi saksi dan mempelajari gunung lumpur raksasa yang sedang lahir dan
tumbuh.

Pada kesempatan itu juga dijelaskan bahwa gunung lumpur akibat remobilisasi
lumpur bawah tanah itu sudah lama menjadi obyek penelitian ilmuwan global. Ilmuwan
Eric Deville dari Perancis dalam membe
rikan
ceramah utamanya mengatakan, "mud volcano adalah sebuah sistem bumi agar
lestari".

Puncak sesi diskusi mengenai Lusi ketika Dr. Richard Davies dan ketiga temannya
menyatakan bahwa semburan Lumpur Sidoarjo adalah akibat pemboran (drilling) BJP
I.

Namun peserta seminar Dr. Nurrohmat Sawolo ahli drilling dari PT Energi Mega
Persada (EMP) langsung menepis hipotesa tersebut. Karena semua data yang
dijadikan dasar penyimpulan Davies sangat beda dengan data drilling otentik
yang dimiliki Lapindo. Padahal data versi Lapindo itu asli dan menjadi pegangan
kepolisian dan kejaksaan RI dalam penyidikan kasus Lusi, katanya.

Pembicara dari

Indonesia
,
Bambang Istadi menyimpulkan bahwa semburan Lusi bukan disebabkan oleh "underground
blowout". "Dasarnya ada empat fakta berdasar data autentik
Lapindo," jelasnya. Pertama, data rekaman tes temperatur dan sonan selama
50 hari terhadap sumur BJP I menunjukan hasil menolak fenomena blowout. Fakta
kedua tidak ada luberan, gas, steam, ataupun lumpur keluar dari Sumur BJP
ketika dibuka.

Fakta ketiganya adalah melalui re-entry diketahui mata bor tidak jatuh walau
semburan yang berjarak 200 meter dari sumut BJP itu sudah berlangsung satu
setengah bulan. Bila terjadi underground blowout pasti mata bor itu jatuh
karena material lumpur yang keluar sudah jutaan ton.

Fakta keempat tidak ditemukan "synthetic oil based drilling" dalam
tes di berbagai titik survey semburan. "Semua fakta menunjukan sumur BJP
masih sehat dan tidak terkoneksi dengan semburan," jelasnya.

Peserta conference Dr. Christopher Jackson dari Imperial College London
menyarankan solusi. "Harus segera ada kerjasama dan sharing data agar
penyimpulan pemicu semburan Lusi menjadi benar," ujarnya.

Sejak awal peserta geolog internasional yang datang dari Ame
rika, Kanada, Perancis, Italy, Norwegia, Australia,
German, Turki, Namibia, dan penjuru Inggris, Wales dan Skotlandia dalam
konferensi ini sepakat bahwa Lusi sebuah mud volcano sebagai produk
remobilisasi sedimen dan aliran fluida diwilayah cekungan bumi yang lemah.
Karena itu semburan Lusi tidak bisa ditutup. (*)

 

Tinggalkan komentar Anda:

Top
Translate »